Didi · Sekolah Kehidupan

#1

“Ma, disini kosong.” tunjuk anak kecil itu ke Ibunya lalu dengan enaknya mereka berdua langsung masuk ke bilik toilet tanpa antri terlebih dahulu. Seharusnya itu giliranku.

Buatku, anak kecil itu tidak salah, yang salah adalah pendidikan yang dia dapat dari orang tuanya. Ibunya bahkan dengan santai melenggang masuk tanpa antri padahal sudah jelas ada antrian yang sabar menunggu giliran. Andai anak itu tidak ada, si Ibu akan kusemprot dengan omelan dan ajaran cara mengantri dan kusuruh dia mengantri ulang dari belakang.

Banyak hal yang anak pelajari dari orang tuanya. Aku ingat saat orang tuaku mengajarkan secara sadar untuk mengucapkan maaf, tolong, dan terima kasih. Mereka pun akan mengucapkan tiga kata tersebut. Anak adalah peniru yang sangat ulung, polos, dan otak mereka seperti busa yang menyerap segala informasi yang masuk dengan cepat. Tipe anak pun berbeda-beda, cara belajarnya pun berbeda. Itulah tugas orang tua untuk mendidik anaknya. Sayangnya sekarang orang tua tidak menyediakan waktu untuk mengenali dan mendidik anak-anak mereka sejak dini, malahan menganggap sekolah bisa melakukan segala-galanya.

Ingat, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Namun dalam beberapa kasus, buah bisa jatuh sangat jauh dari pohonnya. Menarik kan?

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s